Being A True TARBIYAH


Ada seorang cewek, pake rok terus, pakai jilbab menutup dada, dan pakai kaos kaki. Dengan mudah banyak orang mengidentifikasi, ‘ah, itu akhwat tarbiyah’. Ada cowok, dengan jenggot tipis (kalau yang beruntung -hehe), lebih sering celana kain daripada jeans), tidak merokok, dan (umumnya) kalem. Orang-orang pasti bilang, ‘oh, itu ikhwan tarbiyah’.

Akhir-akhir ini kata ‘Tarbiyah’ mulai sering disebut. Namun sayangnya, kata itu cenderung mengerucut pada jenis pengajian tertentu. Kalau demikian berarti semua mahasiswa di Fakultas TArbiyah ikut pengajian ‘tertentu’ dong? hehe, benar-benar kesimpulan yang asal ya..

Sebenarnya, apa to itu tarbiyah?

Dan setelah saya mencoba search kata tersebut di wikipedia, seketika saya langsung bilang ‘wow’ karena ternyata makna tarbiyah begitu tepat dan sesuai pemahaman saya. 🙂

Secara utuhnya begini;

Tarbiyah berasal dari bahasa Arab yang berarti pendidikan, sedangkan orang yang mendidik dinamakan Murobi.

Etimologi

Secara umum, tarbiyah dapat dikembalikan kepada 3 kata kerja yg berbeda, yakni:

  1. Rabaa-yarbuu yg bermakna namaa-yanmuu, artinya berkembang.
  2. Rabiya-yarbaa yg bermakna nasya-a, tara’ra-a, artinya tumbuh.
  3. Rabba-yarubbu yg bermakna aslahahu, tawallaa amrahu, sasa-ahuu, wa qaama ‘alaihi, wa ra’aahu, yang artinya masing memperbaiki, mengurus, memimpin, menjaga dan memeliharanya (atau mendidik).

Makna

Makna tarbiyah adalah sebagai berikut:

  1. proses pengembangan dan bimbingan, meliputi jasad, akal, dan jiwa, yang dilakukan secara berkelanjutan, dengan tujuan akhir si anak didik tumbuh dewasa dan hidup mandiri di tengah masyarakat.
  2. kegiatan yg disertai dengan penuh kasih sayang, kelembutan hati, perhatian, bijak, dan menyenangkan (tidak membosankan).
  3. menyempurnakan fitrah kemanusiaan, memberi kesenangan dan kemuliaan tanpa batas sesuai syariat Allah SWT.
  4. proses yg dilakukan dengan pengaturan yg bijak dan dilaksanakan secara bertahap dari yg mudah kepada yg sulit.
  5. mendidik anak melalui penyampaian ilmu, menggunakan metode yg mudah diterima sehingga ia dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
  6. kegiatan yg mencakup pengembangan, pemeliharaan, penjagaan, pengurusan, penyampaian ilmu, pemberian petunjuk, bimbingan, penyempurnaan, dan perasaan memiliki terhadap anak.
  7. Tarbiyah terdiri atas (1) Tarbiyah Khalqiyyat, yakni pembinaan dan pengembangan jasad, akal,

jiwa, potensi, perasaan dengan berbagai petunjuk, dan (2) tarbiyah diiniyyat tahdzibiyyat, pembinaan jiwa dengan wahyu untuk kesempurnaan akal dan kesucian jiwa menurut pandangan Allah SWT.

Arti

Dalam Islam, istilah pendidikan disebut dengan tarbiyah. Menurut ilmu bahasa, tarbiyah berasal dari tiga pengertian kata -robbaba-robba-yurobbii- yang artinya memperbaiki sesuatu dan meluruskannya. Sedang arti tarbiyah secara istilah adalah:

1. menyampaikan sesuatu untuk mencapai kesempurnaan, dimana bentuk penyampaiannya satu dengan yang lain berbeda sesuai dengan tujuan pembentukannya.

2. menentukan tujuan melalui persiapan sesuai dengan batas kemampuan untuk mencapai kesempurnaan.

3. sesuatu yang dilakukan secara bertahap dan sedikit demi sedikit oleh seorang pendidik.

4. sesuatu yang dilakukan secara berkesinambungan, maksudnya tahapan-tahapannya sejalan dengan kehidupan, tidak berhenti pada batas tertentu, terhitung dari buaian sampai liang lahad.

5. dijadikan sebagai tujuan terpenting dalam kehidupan, baik secara individu maupun keseluruhan, yaitu untuk kemashlahatan ummat dengan asas mencapai keridhaan Allah SWT seperti tersirat dalam firman Allah:

“Tidak wajar bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah dan kenabian, lalu ia berkata kepada manusia, ‘hendaklah kamu menjadi penyembahku, bukan penyembah Allah’. Akan tetapi(dia berkata),’hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.”(Al Imran:79)

Nah, dari pengertian di atas cukup berbanggalah bagi ikhwan maupun akhwat yang selama ini dijuluki ikhwan/akhwat tarbiyah. 🙂

Sekarang simpelnya, bagaimana kemudian kita (khususnya saya pribadi menerapkan ‘tarbiyah’ di kehidupan kita secara nyata?

1. Di lingkungan kerja

Untuk lingkungan kerja tarbiyah mengajarkan kita untuk memiliki integritas tinggi. Selalu tepat waktu, berusaha profesional, dan menganggap bekerja hanya salah satu bentuk ibadah kita kepada Allah SWT. Jadi orientasi kerja bukan pada berapa gajinya, tetapi pada kontribusi apa yang kita berikan di tempat kerja atau bagi pekerjaan kita. Terutama selalu berkeyakinan jika di Akhirat nanti kita akan dimintai pertanggungjawaban atas pekerjaan kita.

2. Di lingkungan masyarakat

Untuk hal ini saya memang masih minim peran. Tetapi dalam sederhananya, tarbiyah membuat kita harus selalu berusaha diterima di masyarakat. Setidaknya memberikan kesan yang baik. Selalu ramah dan menyapa, tidak terkesan eksklusif, dan peka dengan kondisi lingkungan kita.

3. Di lingkungan keluarga

Nah, di sini saya betul-betul mensyukuri karena saya pernah dan sedang dalam proses tarbiyah. Sebab menjadi ibu yang tertarbiyah memacu kita untuk ‘berbeda’ dengan ibu-ibu biasa. Harus lebih sabar, lebih kreatif, dan lebih-lebih yang lain. Ibu yang tertarbiyah juga tidak boleh malas belajar terus menerus. Bisa lewat lingkungan, buku, televisi, semuanya. Tentunya yang paling penting adalah mengenalkan nilai-nilai ketuhanan kepada si kecil sedini mungkin, bahkan dari mulai dalam kandungan.

Sebagai suami/istri yang tertarbiyah juga harus beda dengan yang lain. Ini dimulai dari proses saat mencari dan mendapatkannya. Di antaranya tidak mengumbar kemesraan di depan umum, selalu menguatkan dan saling mengingatkan, tidak egois, dan selalu mendukung aktivitas tarbiyah masing-masing tentunya.

Selain itu muasih banyaaak sekali aspek yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Itu karena memang tarbiyah harus benar-benar merasuk di setiap aspek kehidupan kita.

Semoga juga bisa memberikan pengingatan kepada saya juga. Aamiin..

^_^

 

(Dini hari di antara suara dengkuran dan nafas kecil)

 

Ya Allah… Aku Mencintainya..


 

Sabtu, 2 Februari 2013..

Entahlah, tapi saat ini betapa saya begitu merindukan sesuatu..

Ingatan saya melayang kepada tempo sekitar 7tahun yang lalu.. Masya Allah, ternyata sudah tujuh tahun berlalu..

Menjadi mahasiswa baru di Universitas Sebelas Maret Surakarta, jurusan Komunikasi. Di sanalah awal saya mengenalnya.

Saat itu saya baru mulai berjilbab. Masih memakai celana. Masih naif, polos, dan tak tahu apa-apa.

Yang saya tahu waktu itu hanyalah saya ingin menjadi lebih baik, sebagai pengiring jilbab saya, itu saja.

Perkenalan pertama begitu menggoda. Dimulai dari forum wajib salah satu mata kuliah, di situlah cinta itu bermula..

Bersama mbak yang begitu indah mengenalkan Islam pada kami, mahasiswi2 baru semester satu. Begitu menggetarkan hati, begitu menyentuh kami. Bahkan mungkin sampai saat ini saya masih mengingat dan bisa menceritakan kembali apa yang beliau sampaikan pada kami. Tentang Islam, tentang Allah,tentang Rasulullah..

Dan cinta itu pun berlanjut..

Dengan amanah-amanah yang menguras tenaga dan fikiran, namun dengan sebuah kebersamaan yang begitu indah, tadabbur alam yang mengasyikkan, dan semua kenangan indah yang tidak akan terlupa..

Hingga tak terasa diri ini bertransformasi. Celana panjang itu berganti dengan rok, jilbab kecil itu berganti dengan kain panjang.. Semua itu karena cinta..

Meski orangtua sempat menentang, meski tatapan aneh kadang diterima, tapi semua itu karena cinta..

Ya Allah… Betapa hamba merindukan semua  itu..

Betapa hamba merindukan orang-orang itu..

Allah, sampaikan pada mereka bahwa hamba cinta..

dan cinta ini tidak akan luntur sampai kapan pun..

Jaga mereka Ya Allah..

Dan jika hanya Syurga tempat kami dapat berkumpul kembali, maka istiqomahkan kami sampai saat itu tiba..

Ukhibbuki fillah…

Menjadi Sarjana Ilmu Keibuan


Sewaktu sarapan di sebuah warung pagi tadi bersama Fafa dan abinya, di sebelah kanan saya ada seorang ibu yang juga sedang makan bersama putranya yang sudah duduk di bangku taman kanak-kanak (soalnya pake seragam). Selama makan tak hentinya saya mendengar si ibu membentak-bentak si anak. Rasanya kok saya jadi kasihan gitu sama si anak tersebut.
Seketika itu juga saya introspeksi diri saya sendiri. Astaghfirullah…, jangan-jangan saya juga pernah melakukan hal serupa, sampai ada yang kasihan dengan anak saya. Tapi saya rasa tidak. Setahu saya tidak.
Di waktu lain saya melihat sebuah acara di televisi sedang membahas tentang Anak Berkebutuhan Khusus. Spesifiknya kasus autisme. Ternyata ada sekolah untuk para ibu yang memiliki ABK. Meskipun ada pusat terapi, tetapi yang paling penting tetap kesabaran seorang ibu menghadapi anaknya.
Memang menjadi ibu adalah belajar yang tidak berkesudahan. Kalau bahasa kerennya ‘never ending tarbiyah’ lah.
Saya juga cukup merasakan betapa miskin ilmu saya, padahal baru memiliki satu anak. Ketika harus menghadapi kondisi anak sakit, ketika meladeni pertanyaan yang tidak ada habisnya, ketika si kecil sedang ngambek dn mogok, ketika dan ketika.
Dan ternyata, ibaratnya sebuah universitas kehidupan, saat ini saya sedang kuliah di fakultas keibuan. Saya anggap putri kecil saya yang suka ngambek itu adalah dosen pribadi saya. Dan saya lebih memilih jurusan menjadi ummi yang baik.
SKS yang 24jam sehari ini semoga bisa menghantarkan saya mencapai IPK terbaik di hadapan Allah nanti, dan lulus sebagai Sarjana Ilmu Keibuan dengan predikat summa cumlaude. aamiiin….

Mempersiapkan yang Kedua…


Ketika di awal menikah, setiap pasangan pasti mendambakan hadirnya buah hati. Angan-angan tentang berapa jumlah anak yang ingin dimiliki pun kadang terkesan muluk-muluk.

Mau punya anak berapa? ada yang menjawab tiga, lima, tujuh, bahkan ada yang dengan bercanda menjawab sebelas -biar bisa bikin klub sepakbola- katanya. Hedeuh…

Saya pun dulu berangan-angan ingin memiliki anak yang banyak. Ini karena notabene saya dibesarkan dalam keluarga yang cukup besar, lima bersaudara. Dan menurut saya seru juga ya kalau nanti punya anak banyak, pasti nanti bakalan ramai sekali.

Tapi ternyata, lagi-lagi kenyataan tak seindah angan-angan. Ini yang saya rasakan ketika putri kecil saya sudah berusia genap 2 tahun, 30 Juli lalu.

Banyak sekali faktor yang harus dipertimbangkan. Apalagi, proses kelahiran anak pertama saya yang pertama dengan operasi. Jadi karena ingin sekali yang berikutnya lahir dengan normal, maka harus diberi jarak beberapa tahun.

Belum lagi pertimbangan-pertimbangan lain seperti pekerjaan, dan yang paling penting adalah kesiapan lingkungan. Maklum, saat ini saya masih tinggal dengan orang tua, jadi saya ingin sekali ketika nantinya kembali dipercayai oleh Allah untuk memiliki keturunan tidak membebani orang-orang di sekitar. Apalagi belum lama cucu yang ke tujuh lahir. Meskipun dengan melihat bayi lagi justru semakin membuat diri ini rindu.. ^-^

Tapi di samping itu semua saya tetap yakin, optimis dan percaya bahwa semakin banyak anak yang dimiliki, maka barakah yang dijanjikan Allah jika kita bisa mendidik dengan baik jauuuuh lebih besar.

Jadi motto saya adalah ‘Banyak anak banyak berkah’. HEhehehe..

Namun begitu kegalauan saya seandainya memang hanya dititipi satu anak saja tidak dipungkiri juga ada. Itu karena riwayat kehamilan pertama yang bermasalah. Tetapi itu justru yang memotivasi saya untuk tetap berdoa dan tidak ke Pe De an alias takabur.

Jujur saya sangat salut dan terkadang iri melihat teman-teman ‘seangkatan’ waktu menikah yang kini sudah memiliki anak lagi atau yang kini sudah hamil lagi. Betapa pengecutnya saya yang belum berani menyusul mereka..

Karena disamping itu semua, saya hanya ingin yang kedua nanti (Insya Allah jika masih diijinkan) hadir pada saat yang benar-benar tepat, benar-benar diinginkan dan dinantikan semua orang.. Aaaaminnnn Ya Rabb…

Love to take her beautiful picture..


This slideshow requires JavaScript.

Love to take her beautiful picture..

in every poses.. every moments..

My beautiful little girl..

Still can’t imagine that this is my own daughter.. ^^

Was an Independent Girl


Saya ingat dulu semasa kuliah, naik motor ke wonosari Gunung Kidul..
Saya teringat dulu saat kuliah, pulang rapat UNS Expo jam10 malam sndirian..
Saya teringat juga pernah naik kereta seorang diri Jakarta-Solo pulang pergi..
Dan masih banyak lagi.
Hal-hal di itu seakan begitu luar biasa saat ini. Yap. Setelah menikah, sepertinya independensi itu terkikis tipis.
Sekarang kemana-mana rasanya agak canggung kalau sendirian (kecuali bekerja tentunya).

Mau belanja harus diantar. Pergi ngaji maunya sama “sopir pribadi”. Naik motor sendirian agak malam rasanya sudah was was.

Yang paling sedih adalah kalau dapat undangan walimahan dari teman yang harus ke luar kota. kalau jaman dahulu naik motor sampai ke Jawa Timur pun hayuuuk.. Sekarang? Kalau benar2 tidak ada rombongan mobil yang berangkat rasanya beraaat sekali.. 😦

Fiuhhh… tapi mungkin itulah kodratnya kaum hawa. ada sebuah keterbatasan yang alamiah dan memang tidak boleh dipaksakan. Fitrah. Apalagi ketika suatu kondisi ‘khusus’ memaksa kita untuk benar2 membutuhkan sosok seorang suami. Saat hamil atau punya bayi misalnya.

Apa jadinya seorang suami ketika istrinya ‘terlalu’ mandiri. Kemana-mana ‘tidak butuh’ diantar. Bepergian jauh kemanapun ‘tidak mau’ diantar..

Itu menurut saya. Mungkin barangkali ada yang tidak setuju wajar saja.

notes: catatan ini saya buat ketika akhirnya bisa naik motor hanya berduaan dengan si kecil dengan jarak yang lumayan jauh… 🙂 Akhirnyaaaa….


Dulu jadi panitia, rapat sampai malam sudah biasa..:)

Haha. Masih Muda Penuh SEMANGAT!

Outbond? it’s my favourite! ^^

Uraian Cinta


Uraian Cinta
Mawlana Jalaluddin Rumi
"Fihi ma fihi"

Telah kuuraikan Cinta dan kupaparkan panjang lebar
Namun kala kudatangi dia, aku malu pada uraianku.
Walau lidah sanggup menerangkan apa itu Cinta Namun
keterangan Cinta yang tanpa lidah lebih terang lagi.

Pena begitu gegabah menulis tentang Cinta.

Namunbegitu mencapai Cinta,

kata-kata pecah berkeping-keping.

Untuk menguraikan Cinta, akal tak
berdaya bagai keledai jatuh dilumpur. Cinta sendirilah
yang menerangkan cinta dan kisah cinta.

Matahari membuktikan keberadaannya dengan sinarnya
sendiri. Jika bukti sudah ada, jangan palingkan
wajahmu darinya. Jika tergantung bentuk dan warna, ia
bukan cinta: Warna akan luntur, begitulah cinta sesaat
harus kuenyahkan dari dirimu. Ia harus ditukar dengan
Cinta sebenarnya dan apa saja selain 'Aku' enyahkan
dari sampingmu.

wassalam,

notes;

tulisan ini trnyata sudah hampir 4 tahun tersimpan di draft saya. tanpa saya mampu mengingat pernah menulisnya. hehe…

mungkin waktu itu saya terlalu gengsi mau mem post. takut jadi heboh. hehe.. 🙂

So, tidak ada salahnya di post sekarang.. :))